Selasa, 29 November 2016


Perbedaan Pengendalian Umum dan Pengendalian Aplikasi
TUGAS INDIVIDU - Fakhri Nuzul Robbani C1C012106



Pengendalian diklasifikasikan berdasarkan berbagai kriteria, dan oleh berbagai lembaga. Menurut IAI dan COSO sendiri, pengendalian terdiri atas pengendalian umum (general control) dan pengendalian aplikasi (application control).

Pengendalian umum merupakan pengendalian menyeluruh yang berdampak terhadap lingkungan sistem informasi komputer (SIK), meliputi kebijakan dan prosedur mengenai semua aktifitas PDE, yang bertujuan untuk membuat kerangka pengendalian yang menyeluruh mengenai aktifitas PDE, serta untuk memberikan tingkat keyakinan yang memadai bahwa seluruh tujuan pengendalian intern dapat tercapai. Pengendalian ini diperlukan untuk memberikan jaminan bahwa pengendalian aplikasi berjalan dengan baik sebagaimana mestinya, yang bergantung pada sumber daya komputer. Karena jika pengendalian aplikasi tidak berfungsi, misalnya ada format data yang tidak sesuai tapi dapat dibaca komputer, pengendalian umum akan langsung bereaksi dan memberikan umpan balik. Dengan begitu, petugas dapat segera melakukan koreksi. Adanya pengendalian umum ini merupakan bentuk kombinasi kebaikan yang terdapat pada Auditing Manual dan Auditing PDE.
Menurut IAI, pengendalian umum meliputi unsur-unsur sebagai berikut.
1. Pengendalian Organisasi dan Manajemen,
meliputi pemisahan fungsi serta kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan ffungsi pengendalian.
2. Pengendalian terhadap Pengembangan dan Pemeliharaan Sistem Aplikasi,
untuk memperoleh keyakinan bahwa sistem PDE telah dikembangkan dan dipelihara secara efisien dan ada otorisasinya.
3. Pengendalian terhadap Operasi Sistem, untuk poin-poin sebagai berikut:
a. Sistem digunakan hanya untuk hal-hal yang telah ada otorisasinya
b. Akses ke operasi komputer hanya diijinkan kepada mereka yang telah memiliki otorisasi
c. Program yang digunakan juga hanya yang ada otorisasinya
d. Kesalahan pengolahan dapat dideteksi dan dikoreksi.
4. Pengendalian terhadap Perangkat Lunak Sistem,
Untuk meyakinkan bahwa perangkat lunak sistem dimiliki dan dikembangkan secara efisien, serta diotorisasikan
5. Pengendalian terhadap Entri Data dan Program
Struktur otorisasi ditetapkan dengan jelas atas transaksi, serat akses ke data dan program dibatasi hanya kepada mereka yang memiliki otorisasi.
6. Pengendalian terhadap Keamanan PDE
Menjaga PDE lain yang berhubungan dengan PDE bersangkutan, misalnya digunakannya salinan cadangan (backups) di tempat yang terpisah, prosedur pemulihan (recovery procedures) ataupun fasilitas pengolahan di luar perusahaan dalam hal terjadi bencana.
Keenam kategori tersebut dapat diklasifikasikan menjadi tujuh jenis pengendalian umum, yakni:
1. Pengendalian organisasi dan manajemen
2. Pengendalian piranti lunak dan piranti keras
3. Pengendalian akses
4. Pengendalian data dan prosedur
5. Pengendalian pengembangan sistem baru
6. Pengendalian pemeliharaan sistem dan program
7. Pengendalian dokumentasi

Berikutnya adalah Pengendalian Aplikasi (Application Control), dimaksudkan untuk memberikan kepastian bahwa pencatatan, pengklasifikasian, dan pengikhtisaran transaksi sah serta pemutakhiran file-file induk akan menghasilkan informasi yang akurat, lengkap, dan tepat waktu.
Pengendalian aplikasi ini dibagi menjadi tiga kategori pengendalian, yakni pengendalian atas masukan, pengendalian atas pengolahan dan file data komputer, serta pengendalian atas keluaran. Lebih lanjut tujuan pengendalian aplikasi ini adalah untuk memperoleh keyakinan:
1. Bahwa setiap transaksi telah diproses dengan lengkap dan hanya diproses satu kali
2. Bahwa setiap data transaksi berisi informasi yang lengkap dan akurat
3. Bahwa setiap pemrosesan transaksi dilakukan dengan benar dan tepat
4. Bahwa hasil-hasil pemrosesan digunakan sesuai dengan maksudnya
5. Bahwa aplikasi-aplikasi yang ada dapat berfungsi terus

Perbedaan utama antara pengendalian umum dan pengendalian aplikasi adalah bahwa sifat pengendalian umum adalah prosedural, sedangkan pengendalian aplikasi bersifat lebih berorientasi pada data. Oleh sebab itu, bagi auditor mungkin saja menilai pengendalian umumnya secara terpisah dari penilaian terhadap pengendalian aplikasi.

Selasa, 22 November 2016

Teori Fraud, Fraud Tree, COSO Framework dan Integrated Framework

Fakhri Nuzul R   C1C012106
Hanifzain D         C1C012109
Arina N                C1C012113
Bobby AP            C1C014111



1.      TEORI FRAUD

·         Gone Theory
Teori gone dikemukakan oleh Jack Bologne. Terdapat empat faktor pendorong seseorang untuk melakukan kecurangan, yaitu:
a.       Greed (keserakahan)
Faktor yang berhubungan dengan keserakahan adalah moral seorang individu.
b.      Opportunity (kesempatan)
Kesempatan merupakan suatu keadaan yang bisa datang kapan saja. Kecurangan sebenarnya bisa dilakukan pada setiap kesempatan, namun kesempatan untuk melakukan kecurangan tergantung pada kedudukan pelaku kecurangan. Semakin tinggi jabatan seseorang maka semakin besar pula peluang untuk melakukan kecurangan tersebut.
c.       Need (kebutuhan)
Faktor yang berhubungan dengan kebutuhan adalah motivasi yang lebih cenderung dengan pandangan atau keperluan pegawai yang terkait dengan aset yang dimiliki perusahaan. Tuntutan akan pemenuhan kebutuhan juga dapat menjadi faktor penyebab kecurangan saat kebutuhan seseorang sangat mendesak.
d.      Exposure (pengungkapan)
Pengungkapan berhubungan dengan hukuman pelaku kecurangan. Dengan terungkapnya suatu kasus kecurangan dalam perusahaan atau instansi tidak menutup kemungkinan untuk terulang kembalinya hal yang sama apabila hukuman yang diberikan kurang memberikan efek jera.

·         Fraud Triangle Theory
Merupakan suatu gagasan mengenai penyebab terjadinya kecurangan oleh Donald R. Cressey. Tiga faktor yang digambarkan dalam fraud triangle adalah :
a.       Opportunity (kesempatan)
Peluang merupakan faktor dasar yang memungkinkan terjadinya kecurangan. Lemahnya pengawasan dan pengendalian internal dalam organisasi akan mengakibatkan individu memiliki kesempatan untuk melakukan kecurangan.
b.      Pressure (tekanan)
Tekanan atau motivasi pada seseorang akan membuat mereka mencari kesempatan melakukan kecurangan. Berbagai aspek yang mempengaruhi tekanan diantaranya adalah tuntutan ekonomi dan gaya hidup seseorang.
c.       Rationalization (rasionalisasi)
Rasionalisasi terjadi ketika seorang pelaku kecurangan mencari pembenaran atas tindakan yang dilakukannya. Para pelaku biasanya meyakini bahwa tindakan yang dilakukannya bukan merupakan kesalahan dan memang hak yang pantas untuk diterimanya karena telah berbuat banyak untuk organisasi.




·         Fraud Diamond Theory
Merupakan sebuah pandangan baru tentang fenomena fraud yang dikemukakan oleh Wolfe dan Hermanson. Secara keseluruhan fraud diamond merupakan penyempurnaan dari fraud triangle. Adapun elemen-elemen dari fraud diamond adalah pressure, opportunity, rationalization, dan capability.
Capability adalah sifat dan kemampuan pribadi seseorang yang mempunyai peranan besar yang memungkinkan melakukan kecurangan. Sifat-sifat elemen capability yang sangat penting dalam pribadi pelaku kecurangan, yaitu:
a.       Positioning
Posisi seseorang dalam organisasi dapat memberikan kesempatan dalam melakukan kecurangan.
b.      Intelligence and creativity
Pelaku kecurangan memiliki pemahaman yang cukup dalam pengendalian internal organisasi.
c.       Convidence / ego
Individu harus memiliki ego yang kuat dan keyakinan yang besar dia tidak akan terdeteksi.
d.      Coercion
Pelaku kecurangan dapat memaksa orang lain untuk melakukan atau menyembunyikan penipuan.
e.       Deceit
Penipuan yang sukses membutuhkan kebohongan efektif dan konsisten.
f.        Stress
Individu harus mampu mengendalikan stres karena melakukan tindakan kecurangan dan menjaganya agar tetap tersembunyi sangat bisa menimbulkan stres.

·         Fraud Pentagon Theory
Teori ini dikemukakan oleh Crowe Howart. Teori fraud pentagon merupakan perluasan dari teori fraud triangle yang dikemukakan oleh Cressey, dalam teori ini menambahkan dua elemen fraud lainnya yaitu kompetensi dan arogansi.
a.       Competence (kompetensi)
Kompetensi merupakan kemampuan karyawan untuk mengabaikan pengendalian internal, mengembangkan strategi penyembunyian, dan mengontrol situasi sosial untuk keuntungan pribadinya.
b.      Arrogance (arogansi)
Arogansi adalah sikap superioritas atas hak yang dimiliki dan merasa bahwa pengendalian internal atau kebijaksanaan perusahaan tidak berlaku untuk dirinya.

·         Fraud Tree
Menurut Association of Certified Fraud Examiners klasifikasi yang disebut fraud tree yaitu sistem klasifikasi mengenai kemungkinan kecurangan yang dilakukan oleh karyawan di dalam suatu perusahaan yang menggambarkan occupational fraud dalam bentuk fraud tree.
Occupational fraud tree memiliki tiga cabang utama, yaitu
a.       Corruption (korupsi)
Fraud jenis ini paling sulit dideteksi karena menyangkut kerjasama dengan pihak lain seperti suap dan korupsi, dimana hal ini merupakan jenis yang banyak terjadi di negara berkembang yang penegakan hukumnya masih lemah dan masih kurang kesadaran akan tata kelola yang baik.
b.      Asset Misappropriation (penyimpangan atas aset)
Penyalahgunaan terhadap aktiva tetap atau harta perusahaan yang digunakan untuk keuntungan pribadi.
c.       Fraudulent Statement (pernyataan palsu)
Kecurangan pernyataan palsu meliputi tindakan yang dilakukan oleh pejabat atau eksekutif suatu perusahaan atau instansi pemerintah untuk menutupi kondisi keuangan yang sebenarnya dengan melakukan rekayasa keuangan dalam penyajian laporan keuangannya untuk memperoleh keuntungan.


2.      FRAUD TREE



Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) menggambarkan occupational fraud dalam bentuk fraud tree. Pohon ini memberikan gambaran cabang-cabang dari fraud dalam hubungan kerja, beserta ranting dan anak rantingnya. Para akuntan cenderung lebih memahami fraud tree dalam bahasa inggris daripada pohon tree, karena fraud tree lebih sering digunakan.

Occupational fraud tree memiliki tiga cabang utama, yaitu corruption, asset missappropriation, dan fraudelent statements. 

1)      Korupsi (Corruption)
Menurut Associatian of Certified Fraud Examiners (ACFE) menggambarkan corruption sebagai berikut :
a. Conflicts of interest ialah suatu keadaan dimana para pejabat memanfaatkan kuasanya untuk menggunakan keluarga ataupun kroninya menjadi pemasok atau rekanan di lembaga – lembaga pemerintah dan di dunia bisnis sekalipun.
b. Bribery ialah pemberian hadiah kepada seseorang dengan maksud untuk mencapai sutu tujuan (penyuapan).
c. Illegal gratuities ialah pemberian atau hadiah yang merupakan bentuk terselubung dari penyuapan. Contoh hadiah ulang tahun, parsel dll.
d. Economic extortion ialah suatu bentuk meminta dengan mengancam (pemerasan) kepada orang lain.

2)      Penyimpangan Atas Aset (Asset Misappropriation)

Asset misappropriation meliputi penyalahgunaan/pencurian aset atau harta perusahaan atau pihak lain. Ini merupakan bentuk fraud yang paling mudah dideteksi karena sifatnya yang tangible atau dapat diukur/dihitung (defined value). Asset misappropriation dalam bentuk penjarahan cash dilakukan dalam tiga bentuk yaitu : skimming, larceny, dan fraudulent disbursements.

3)      Pernyataan Palsu (Fraudulent Statement)

Jenis fraud ini sangat dikenal para auditor yang melakukan general audit (opinion audit). Fraudulent statement meliputi tindakan yang dilakukan oleh pejabat atau eksekutif suatu perusahaan atau instansi pemerintah untuk menutupi kondisi keuangan yang sebenarnya dengan melakukan rekayasa keuangan (financial engineering) dalam penyajian laporan keuangannya untuk memperoleh keuntungan atau mungkin dapat dianalogikan dengan istilah window dressing. Fraud ini berupa salah saji aset atau pendapatan yang lebih tinggi dari sebenarnya (asset/revenue overstatements) dan menyajikan aset atau pendapatan lebih rendah dari yang sebenarnya (asset/revenue understatements).

3.     COSO Framework dan Integrated Framework

A.    COSO Framework
Committee of Sponsoring Organizations of the Treatway Commission (COSO) memperkenalkan adanya lima komponen pengendalian intern yang meliputi Lingkungan Pengendalian (Control Environment), Peneliaian Risiko (Risk Assesment), Aktivitas Pengendalian (Control Procedure), Pemantauan (Monitoring), serta Informasi dan Komunikasi (Information and Communication)
Lingkungan Pengendalian (Control Environment)
Lingkungan pengendalian perusahaan mencakup sikap para manajemen dan karyawan terhadap pentingnya pengendalian yang ada di organisasi tersebut. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap lingkungan pengendalaian adalah filosofi manajemen (manajemen tunggal dalam persekutuan atau manajemen bersama dalam perseroan) dan gaya operasi manajemen (manajemen yang progresif atau yang konservatif), struktur organisasi (terpusat atau terdesentralisasi) serta praktik kepersonaliaan. Lingkungan pengendalian ini amat penting karena menjadi dasar keefektifan unsur-unsur pengendalian intern yang lain.
Pengendalian internal vs pengendalian manajemen:
1. Pengendalian internal
a pengendalian manajemen terdiri dari pengendalian intern dan ekstern
b. lebih menekankan pd tujuan perusahaan dan menghubungkan pengendallian manajemen untuk mencapai tujuan
c. meliputi produksi, transportasi dan riset perusahaan.
2. Pengendalian manajemen
a. mengendalikan terdiri dari pengendalian administratif dan pengendalian akuntansi
b. menekankan pada pengendalian terhadap mengamankan aktiva perusahaan dengan melakukan pecatatan akuntansi memadai
c. meliputi akuntansi meningkatkan efektifitas dan efisiensi dan taat pd hukum yang berlaku.
COSO memperkenalkan lima komponen pengendalian intern sebagai pembaharuan dari pengendalian manajemen, pengendalian manajemen lebih menekankan terhadap prosedur, sementara pengendalian intern lebih menekankan peran manusia/pelaku dibandingkan serangkaian prosedur.
Penilaian Risiko (Risk Assesment)
Semua organisasi memiliki risiko, dalam kondisi apapun yang namanya risiko pasti ada dalam suatu aktivitas, baik aktivitas yang berkaitan dengan bisnis (profit dan non profit) maupun non bisnis. Suatu risiko yang telah di identifikasi dapat di analisis dan evaluasi sehingga dapat di perkirakan intensitas dan tindakan yang dapat meminimalkannya.



Prosedur Pengendalian (Control Activities)
Prosedur pengendalian ditetapkan untuk menstandarisasi proses kerja sehingga menjamin tercapainya tujuan perusahaan dan mencegah atau mendeteksi terjadinya ketidakberesan dan kesalahan. Prosedur pengendalian meliputi hal-hal sebagai berikut:
·         Personil yang kompeten, mutasi tugas dan cuti wajib.
·         Pelimpahan tanggung jawab.
·         Pemisahan tanggung jawab untuk kegiatan terkait.
·         Pemisahan fungsi akuntansi, penyimpanan aset dan operasional.
Pemantauan (Monitoring)
Pemantauan terhadap sistem pengendalian intern akan menemukan kekurangan serta meningkatkan efektivitas pengendalian. Pengendalian intern dapat di monitor dengan baik dengan cara penilaian khusus atau sejalan dengan usaha manajemen. Usaha pemantauan yang terakhir dapat dilakukan dengan cara mengamati perilaku karyawan atau tanda-tanda peringatan yang diberikan oleh sistem akuntansi.
Penilaian secara khusus biasanya dilakukan secara berkala saat terjadi perubahan pokok dalam strategi manajemen senior, struktur korporasi atau kegiatan usaha. Pada perusahaan besar, auditor internal adalah pihak yang bertanggung jawab atas pemantauan sistem pengendalian intern. Auditor independen juga sering melakukan penilaian atas pengendalian intern sebagai bagian dari audit atas laporan keuangan.
Informasi dan Komunikasi (Information and Communication)
Informasi dan komunikasi merupakan elemen-elemen yang penting dari pengendalian intern perusahaan. Informasi tentang lingkungan pengendalian, penilaian risiko, prosedur pengendalian dan monitoring diperlukan oleh manajemen Winnebago pedoman operasional dan menjamin ketaatan dengan pelaporan hukum dan peraturan-peraturan yang berlaku pada perusahaan.
Informasi juga diperlukan dari pihak luar perusahaan. Manajemen dapat menggunakan informasi jenis ini untuk menilai standar eksternal. Hukum, peristiwa dan kondisi yang berpengaruh pada pengambilan keputusan dan pelaporan eksternal.
   

B.     Coso Integrated Framework
Sebelum masuk ke dalam topik mengenai Internal Control (IC), terlebih dahulu kita harus mengenal apa itu COSO. The Committee of Sponsoring Organization of Treadway Commission adalah joint initiative dari lima organisasi sukarela dari sektor privat yang bertujuan untuk mengembangkan kerangka dan panduan mengenai Manajemen Risiko, Pengendalian Internal, dan Pencegahan Fraud. Kelima organisasi tersebut terdiri dari American Accounting Associaton (AAA), American Institute of Certified Public Accountant (AICPA), Financial Executive International (FEI), The Association of Accountant and Financial Professionals in Business (IMA), dan The Institute of Internal Auditor (IIA). Produk yang telah dihasilkan oleh COSO antara lain Internal Control – Integrated Framework(1992) dan Enterprise Risk Management – Integrated Framework (1994). Indonesia mengadopsi Internal Control – Integrated Framework (1992) dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 mengenai Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. Dalam perkembangannya COSO telah mengeluarkan kerangka IC terbaru yaitu Internal Control – Integrated Framework (2013) untuk menggantikan kerangka IC yang lama.
COSO mendefinisikan IC adalah process, effected by an entity’s board of directors, management, and other personnel, designed to provide reasonable assurance regarding the achievement of objectives relating to operations, reporting, and compliance. Definisi ini sengaja dibuat secara luas agar dapat menangkap konsep yang penting mengenai bagaimana suatu organisasi merancang, mengimplementasikan, melaksanakan IC, dan menilai efektivitas dari sistem pengendalian internal, serta memberikan dasar dalam pengaplikasiannya di berbagai tipe organisasi. Selain itu definisi ini juga mengakomodasi bagian-bagian dari IC.

Tujuan dari IC terdiri dari operations, reporting, dan compliance dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.       Operations Objectives.
Tujuan operasional terkait dengan pencapaian visi, misi, dan tujuan didirikannya entitas. Tujuan ini terkait dengan peningkatan financial performance, produktivitas, kualitas, enviromental practices, return of assets, dan likuiditas. Salah satu tujuan yang terkait dengan tujuan operasional adalah Pengamanan Aset. Entitas dapat menentukan tujuan yang terkait dengan pencegahan kehilangan aset serta secara periodik mendeteksi dan melaporkan kehilangan aset.
2.       Reporting Objectives.
               Tujuan pelaporan berkaitan dengan penyusunan laporan untuk digunakan oleh organisasi dan stakeholders dalam hubungannya dengan pelaporan finansial/non-finansial serta pelaporan eksternal/internal. Karakteristik dari pelaporan finansial/non-finansial eksternal adalah disesuaikan dengan aturan dan kebutuhan eksternal, dipersiapkan sesuai dengan standar eksternal, dan mungkin diharuskan menurut regulator, kontrak, dan perjanjian. Sedangkan karakteristik pelaporan finansial/non-finansial internal adalah digunakan dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan bisnis serta ditetapkan oleh manajemen dan board.

3.      Compliance Objectives.
               Aturan dan hukum merupakan standar minimal dari perilaku organisasi. Organisasi diharapkan akan menggabungkan standar tersebut ke dalam tujuan dari entitas, bahkan organisasi dapat menetapkan standar yang lebih tinggi daripada yang ditetapkan oleh hukum dan peraturan.
Satu tujuan dan tujuan lainnya dapat saling tumpang tindih atau saling membantu. Misalnya dalam hal pelaporan keuangan, dapat menjadi dasar bagi manajemen dalam melakukan review dalam kinerja operasionalnya serta kepatuhannya terhadap aturan. Selain itu, pengamanan aset yang merupakan salah satu contoh tujuan operasional juga berpengaruh terhadap ketepatan jumlah aset dalam pelaporan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penetapan tujuan-tujuan ini tetap saling berkesinambungkan, tapi tetap bergantung dengan situasi yang ada.
Dalam COSO ERM, manajemen risiko terdiri dari delapan komponen yang saling terkait, yaitu:
1.       Lingkungan Internal/ Internal Environment
Mengidentifikasi kondisi internal perusahaan, meliputi kekuatan dan kelemahannya, serta pandangan entitas terhadap risiko dan manajemen risiko.
2.       Penetapan Sasaran/ Objective Setting
Sasaran kegiatan manajemen risiko harus sejalan dengan sasaran dari perusahaan, serta konsisten denganrisk appetite perusahaan
3.       Identifikasi Kejadian/ Event Identification
Kejadian internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi pencapaian sasaran perusahaan harus diidentifikasi, meliputi risiko dengan kesempatan yang dapat muncul.
4.       Penilaian Risiko/ Risk Assessment
Risiko dianalisis berdasarkan kemungkinan dan dampaknya. Hasil analisis risiko akan dijadikan dasar untuk menentukan perlakuan risiko.
5.       Perlakuan Risiko/ Risk Response
Terdapat empat alternatif pada perlakuan risiko, yaitu menghindari (avoidance), menerima (acceptance), mengurangi (reduction), dan membagi risiko (sharing). Pemilihan perlakuan risiko dilakukan dengan membandingkan hasil analisis risiko dengan risk appetite dan risk tolerance.
6.       Aktivitas Pengendalian/ Control Activities
Membangun dan mengimplementasikan kebijakan dan prosedur untuk memastikan perlakuan risiko diterapkan dengan efektif.
7.       Informasi dan Komunikasi/ Information and Communication
Informasi yang relevan diidentifikasi, diperoleh, dan dikomunikasikan dalam bentuk dan waktu yang tepat agar personil dapat melakukan tanggung jawabnya dengan baik.
8.       Pemantauan/ Monitoring
Seluruh kegiatan ERM harus dipantau, dievaluasi dan dikembangkan.

Berikut Bagan dari COSO Integrated Framework:




source : wikipedia

Selasa, 15 November 2016

pegipegi.com

Diluncurkan pada tanggal 7 Mei 2012, pegipegi.com telah membuat nama di industri perhotelan di Indonesia. Diresmikan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Marie Elka Pangestu, kami bertekad untuk memberikan yang terbaik layanan reservasi online untuk Travellers Indonesia.
Kami menyediakan banyak pilihan hotel serta berbagai tujuan penerbangan dan tiket kereta api. Didukung oleh membantu layanan pelanggan lokal, kami membantu ribuan pelanggan untuk merencanakan perjalanan mereka melalui pemesanan online dan offline dengan platform yang berbeda, seperti telepon-telepon, web-chatting, e-mail, dan utusan sosial. Sebagai bagian dari komitmen kami untuk membuat pengalaman perjalanan pelanggan kami mudah, kami menyediakan berbagai metode pembayaran untuk setiap jenis pelanggan.
Pegipegi berkantor di Jl. Raya Perjuangan No. 23, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11530 - Indonesia.


Para pemegang saham

Recruit Holdings
Salah satu perusahaan terkemuka Jepang dengan pengalaman yang luas dalam industri perjalanan. Mengelola Jalan.net, Agen Travel yang terbesar di Jepang, perusahaan mencatat USD 3,5 miliar laba pada 2012.

PT Altavindo
Penyedia solusi Teknologi Informasi dengan situs portofolio luas, termasuk JKT 48, Kartu Kredit Mandiri dan lain-lain.



pegipegi.com business process
                                   

Sistem Pemesanan dan Pembayaran
Hotel
1.       Cari Hotel
Mulai pencarian Anda di halaman utama Hotel pegipegi.com dengan memasukkan kota/daerah/nama hotel dan data menginap (check-in & lama menginap).
2.       Pilih Hotel
Di halaman hasil pencarian, Anda dapat langsung memilih hotel yang Anda inginkan.
3.       Pesan Hotel
Setelah menemukan hotel yang sesuai, Anda dapat memilih kamar hotel dan jumlahnya.
4.       Isi data dan lakukan pembayaran
Isi data pemesan dengan data tamu yang akan menginap. Setelahnya, review kembali data Anda di halaman review. Setelah memastikan data sudah benar, lanjutkan ke halaman pembayaran.
5.       Voucher Hotel/E-Ticket dikirimkan
Setelah pembayaran sukses diterima, Anda akan menerima email berisi ringkasan voucher hotel berupa e-ticket secara instan, maksimum dalam 60 menit.

Tiket Pesawat
1.       Cari penerbangan
Mulai pencarian Anda di halaman depan Tiket Pesawat pegipegi.com dan masukkan data-data penerbangan yang diperlukan
2.       Pilih penerbangan
Di halaman hasil pencarian, Anda dapat langsung memilih penerbangan yang diinginkan. Tekan tombol “Pesan Tiket” untuk memesan penerbangan tersebut.
3.       Isi data kontak dan penumpang
Setelah memilih penerbangan, Anda harus mengisi data pemesan yang dapat dihubungi serta data dari penumpang yang akan berangkat.
4.       Lakukan pembayaran
Pilih dan klik metode pembayaran yang sesuai dengan kebutuhan Anda.
5.       E-Ticket dikirimkan
Jika pembayaran sukses kami terima, e-tiket akan otomatis terkirim pada alamat email Anda dalam waktu maksimal 60 menit.

Tiket Kereta Api
1.       Cari Kereta Api
Mulai pencarian Anda di halaman utama Kereta Api pegipegi.com dan masukkan data yang diperlukan untuk perjalanan Anda
2.       Pilih perjalanan kereta api
Di halaman pencarian, Anda dapat memilih perjalanan kereta api yang diinginkan. Klik tombol “PESAN” untuk memesan tiket tersebut.
3.       Isi data pemesanan
Setelah memilih perjalanan kereta api, Anda harus mengisi data pemesan yang dapat dihubungi serta data penumpang yang akan berangkat.
4.       Lakukan pembayaran
Pilih dan klik metode pembayaran yang sesuai dengan kebutuhan Anda (Kartu Kredit / Bank Transfer)
5.       E-Ticket dikirimkan
Jika pembayaran sukses kami terima, e-ticket akan terkirim secara otomatis ke alamat email Anda maksimal 60 menit sejak pembayaran dilakukan. Perlu dicatat, e-ticket ini bukanlah tiket kereta api. Anda harus menukarkan e-ticket dengan tiket kereta yang asli di stasiun keberangkatan.

Tipe sistem dari pegipegi.com adalah business to customer,karena pegipegi.com memberikan pelayanan dengan konsumen dengan menyediakan atau menawarkan produk berupa layanan reservasi online. Model dari pegipegi.com merupakan transaction broker dengan sistem pendapatan berupa affiliate.

sumber : pegipegi.com